Senin, 12 September 2011

Sonya


Singgalang, Minggu (10/9/2011)

Cerpen by: Marisa Elsera

Gemericik air sungai terdengar jelas dari balik dinding kamar yang kini ditempati Sonya. Suara itu serasa menghipnotisnya sehingga dia pun semakin larut dalam lamunannya. Hingga subuh itu, matanya tak jua mampu terpejam. Semakin ia paksa memejamkan mata, semakin jauh angannya terbang. Akhirnya, Sonya pun membuka lebar jendela kamarnya hingga udara dingin di pagi buta di suatu dusun di Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan pun menerpa wajahnya.

Meski saat itu mentari pagi belum menyapa, tapi Sonya dapat melihat rerumputan yang dibasahi embun pagi melalui lampu strongkeng yang di pasang di teras rumah. Rerumputan itu pun bergoyang mengikuti arah angin yang berhembus tak karuan. Terkadang bergoyang ke Selatan, terkadang juga bergoyang ke Barat. Sama halnya dengan Sonya yang merasa hidupnya tak jauh beda dengan rerumputan itu. Merasa perasaanya semakin tak karuan, Sonya mulai mengalihkan pandangan pada serangga terbang yang mengitari lampu kamarnya. Sedikitnya ada 5 serangga yang berterbangan disana dengan lihainya, tampak seperti anak-anak yang bermain di taman bermain bersama teman-temannya. Sangat bahagia, seolah-olah tak ada duka yang dia simpan di hati.

Sonya pun berkhayal jika dia terlahir sebagai serangga itu. Barangkali akan sangat menyengangkan jika tak memiliki akal pikiran dan perasaan. Tentunya tak ada hal yang perlu dia khawatirkan dan tak perlu merasa tersakiti. Sayangnya dia terlahir sebagai manusia yang hidup di keluarga broken home. Meski secara ekonomi tergolong mapan dengan status social yang cukup disegani, toh hal itu tak mampu membuat Sonya merasa bahagia. Ada kekosongan yang dia rasakan di batinnya. Tapi entah apa itu, dia pun tak mengerti hingga kini.
Puncaknya, sehari setelah sidang perceraian kedua orang tuanya, Sonya pun kabur dari rumah. Beragam perasaan berbaur dan berkecamuk dalam hatinya. Terkadang dia merasa begitu marah hingga mampu menyakiti dirinya sendiri, terkadang pula dia merasa sangat sensitive sehingga menganggap dirinya tak berguna di dunia ini. Perceraian orang tuanya yang dinilai mendadak itulah yang membuat gadis bermata indah itu tak bisa menerima dan memilih meninggalkan kota Padang tempat kelahirannya.

Tiba-tiba lamunan Sonya buyar ketika Rista menepuk pundaknya. Tampaknya anak kedua dari tiga bersaudara itu terbangun karena udara dingin yang masuk ke dalam kamar. Dengan mata masih setengah terbuka, Rista memeluk sahabatnya itu dengan erat. Tak ada kata-kata yang ia ucapkan, hanya pelukan dan usapan di pundak Sonya yang dapat dia lakukan untuk menenangkan kegalauan Sonya. Tampaknya Rista begitu paham dengan apa yang dipikirkan sahabatnya itu. Akhirnya, dua sahabat itu pun duduk di pinggir jendela hingga adzan subuh berkumandang sambil berpelukan.

“Yuk, shalat Subuh dulu biar perasaan kita jadi tenang,” bujuk Rista sambil menepuk lembut tangan Sonya.

Tapi Sonya tetap tak bergeming, tanpa membuka suara gadis itu menggelengkan kepalanya. Artinya, dia menolak untuk Shalat Subuh dan lebih memilih melanjutkan lamunannya. Rista masih berusaha membujuk Sonya, tapi sayang gadis itu bersikeras tidak ikut shalat Subuh. Karena tak ingin Sonya marah-marah lagi, Rista pun mengalah. Dia melangkah ke kamar mandi terlebih dahulu dan menunaikan kewajibannya sebagai umat Islam.

Usai mengucapkan salam, Rista mendapati tubuh Sonya terbaring di atas sajadah bersebelahan dengan tempat Rista Shalat Subuh. Sambil memainkan pinggiran sajadah itu, Sonya terus menangis. Bahkan kali ini dia terisak cukup kuat hingga membangunkan adik Rista yang tertidur di kamar sebelah ruang shalat. Merasa kasihan, Rista pun kembali memeluk sahabatnya itu untuk menenangkannya. Namun isak Sonya semakin keras, airmata yang menetes pun semakin deras. Kini gadis manis yang banyak diidolakan mahasiswa di kampusnya itu pun tampak seperti anak kecil yang tengah menangis di pangkuan ibunya.

Kekecewaan Sonya pada keluarganya bukan saja karena perceraian itu, tapi juga karena penyebab keretakan keluarga itu. Karena kesibukan, Papa Sonya sampai jarang pulang ke rumah. Lebih banyak melakukan perjalanan dinas ketimbang berada di samping keluarga. Karena itu, Mama Sonya kerap merasa was-was dan merasa Papa Sonya punya istri atau simpanan lain. Dua tahun belakangan pun mereka sering cek-cok. Puncaknya, Mama melayangkan surat cerai karena ingin menikah lagi dengan teman kuliahnya dulu.
Pengkhianatan dan ketidakharmonisan keluarganya itulah yang membuat Sonya merasa begitu terpukul atas perceraian kedua orangtuanya. Sonya selalu berpikiran, bahwa kedua orangtuanya begitu egois. Mereka hanya memikirkan kepentingan sendiri dan mengabaikan kepentingan Sonya, anak sulung mereka. Disaat Sonya butuh teman bicara, butuh bantuan dan butuh kasih sayang keluarga, dia tak bisa mendapatkan itu semua. Akhirnya, dia berubah menjadi anak yang introvert dan cenderung berprilaku menyimpang. Mabuk-mabukan hampir setiap malam sudah jadi agenda hariannya. Dia benar-benar terpuruk, dan beberapa kali sempat ketahuan hendak bunuh diri oleh pembantu dan sahabatnya, Rista.

Menyadari rapuhnya iman sahabatnya itulah, maka Rista tak mau meninggalkan Sonya . Dia bahkan rela pindah ke rumah Sonya guna mengontrol prilaku Sonya. Sebab, di sadar betul bahwa tidak ada seorang pun yang peduli pada Sonya selain dia.
“Nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaikan. Ini cobaan, satu step yang membawa kita pada kedewasaan. Sabar ya, ambil hikmahnya,” ujar Rista sambil menyeka airmata Sonya.
“Rasanya ingin mati saja, hidup ini nggak adil. Onya benci Mama, Papa juga, Tuhan juga. Onya benci diri sendiri, benci dengan hidup ini. Nggak adil,” umpat Onya.
Adik Rista, Suci yang sedari tadi menguping pembicaraan kedua mahasiswi jurusan Sosiologi itu pun memberanikan diri menjumpai Sonya dan Rista yang masih berada di ruang shalat. Kemunculan Gadis berusia 11 tahun itu menghentikan isak Sonya beberapa waktu. Sembari tertatih-tatih, Suci mendekat dan mengusap pipi Sonya.
“Kakak jangan bilang Allah itu nggak adil. Nanti Dia murka dan mendatangkan azab pada kita loh. Tuhan itu punya cara tertentu untuk menyayang umatnya,”tutur Suci.
“Kamu terlalu kecil buat tau gimana perasaan orang dewasa,dek. Kamu enak, punya kedua orang tua yang lengkap. Tapi kakak?,” sahut Sonya.
“Gimana dengan aku yang cuma punya satu kaki?. Disaat anak seusiaku bermain dengan bebas di halaman, aku malah tertarih berjalan dengan tongkat ini. Apa menurut kakak, aku ini orang yang nggak beruntung?,” timpal Suci.

Serta merta Sonya terdiam. Dia baru tersadar bahwa Suci ternyata bunting. Padahal, dia sudah bertemu Suci sore kemarin ketika baru saja sampai di kampung. Ketika itu, dia melihat Suci tengah mengambil jemuran di halaman tapi dia tidak memperhatikan ada tongkat penyangga yang diapi Suci diketiaknya. Karena begitu larut dalam kesedihan, Sonya tak lagi peduli sekelilingnya. Sontak saja Sonya memeluk gadis kecil itu begitu erat.

Dipandanginya kondisi kaki kanan Suci yang masih terbungkus perban itu. Kemudian diliriknya wajah Suci diam-diam. Tak ada guratan kesedihan yang tampak diwajah Suci. Bahkan, dalam kondisi semiris itu pun Suci masih tetap ceria dan selalu ramah jika bertemu kenalan. Tiba-tiba saja Sonya merasa tubuhnya gemetar kencang sekali. Persis seperti habis tersengat listrik. Dia juga merasakan hatinya seperti mengerucut, lidahnya pun kelu hingga tak tahu hendak berkata apa.

“ Allah Swt masih saya sama ayah dan ibu. Makanya dia nggak mau cepat-cepat ngambil aku dari kecelakaan mobil saat itu. Allah Cuma ambil sebelah kaki ku, itu artinya Allah beri kesempatan aku buat berbakti sama kedua orangtuaku,” jelas Suci sambil tersenyum simpul.

Ah, Sonya pun tak tahu harus menjawab apa. Dia pun hanya membalas dengan senyum, meski kecut. Dia yang dewasa secara usia ternyata masih terlalu kekanak-kanakan dalam menghadapi hidup ini. Sementara Suci yang masih anak-anak sudah begitu dewasa dan mampu menerima kondisinya dengan bijak. Sempat terbayang oleh Sonya jika dia menjadi Suci, mungkin dia akan memilih kematian. Dia tidak akan sanggup hidup tanpa anggota tubuh yang lengkap.

Setelah merasa sedikit tenang, Sonya dan Suci menunaikan shalat Subuh. Usai shalat, Sonya kembali ke kamar dan merenung. Nasibnya ternyata jauh lebih beruntung dari Suci. Meski perceraian kedua orangtuanya membuat Sonya harus hidup terpisah dari Mamanya, tapi toh dia masih bisa bertemu Mama setiap waktu. Sebab, mereka hanya terpisah jarak bukan terpisah dunia. Sonya menyadari betul dia masih beruntung jika dibandingkan orang lain yang bernasib lebih malang darinya.

Ada banyak hal yang didapatkan Sonya selama berlibur 2 hari di kampung Rista. Keramahan dan kehangatan anggota keluarga Rista membuat Sonya merasa betah disana. Meski mereka tinggal di dusun yang tidak mengenal listrik dan kemewahan, toh mereka punya harta yang paling berharga yakni keharmonisan keluarga yang tidak dapat ditebus dengan apapun juga. ***



Tidak ada komentar: